Pada suatu hari, di sebuah sekolah menengah. Saat jam istirahat, ada perkelahian antara dua murid laki-laki di kelas. Kerumunan murid pun berakhir saat seorang guru datang menengahi dan melerai mereka. Tidak lama kemudian, saat pelajaran berikutnya akan dimulai, Kepala Sekolah sekolah masuk ke kelas tersebut dan langsung menyampaikan maksud kedatangannya.
"Andika, kamu nanti datang kantor Bapak, jam 3 sore."Seisi kelas terdiam sedangkan murid yang dimaksud seketika
Minggu, 15 Juli 2012
Kisah tukang becak naik haji
Tukang Becak ini bernama Pak Muthalib. Dia naik haji bukan karena undian berhadiah ataupun dihajikan. Tetapi karena hasil kerja keras beliau.
Profil Pak Thalib inilah inilah yang akan saya bahas kali ini. Karna ternyata beliau satu kota dengan saya di kota Pekalongan Gan .
Saya salut dengan beliau sekaligus terharu
Setelah mengetahui bahwa pak Carub ini tinggal di Pekalongan, saya pun mencoba tanya kanan-kiri depan belakang. Hingga akhirnya mendapat FORMULA RAHASIA
Kado untuk Samuel
“Mengasihi artinya berbagi kebahagiaan dan berkorban demi kebahagiaan orang yang kita kasihi”
“Aku menemukan sisi lain dari keindahan dunia ini saat mengenalmu dan ketika aku kehilangan dirimu, engkau menjadi inspirasi bagiku.”
Aku meneguk sisa es teh tawar yang masih tersisa di gelasku. Ketika aku masih menikmatinya ekor mataku menangkap sosok anak laki-laki yang memperhatikanku. Matanya menatapku. Sebuah tatapan yang menusuk ke dalam hatiku. Tatapan yang penuh iba. Aku meletakkan gelas yang hanya menyisakan es batu yang masih membeku.
“Bu, anak kecil yang duduk di pinggir jalan itu siapa ya?” tanyaku penasaran kepada pemilik warung sambil memandang anak laki-laki tersebut.
“Ow… Duh, kasihan tuh anak, bang!”
“Kasihan kenapa, bu?”
“Sudah seminggu bapanya meninggal gara-gara sakit. Ibunya sih meninggal pas melahirkan dia. Dia ngga punya keluarga lagi. Sekarang sih dia tidur di mana saja karena di usir dari kontrakan.”
“Begitu ya, bu!”
Selesai membayar es teh tawar yang aku pesan. Aku menghampiri anak laki-laki yang hanya mengenakan pakaian kumal tanpa alas kaki. Entah sudah berapa lama dia tidak mengganti pakaiannya.
Semakin aku mendekatinya semakin jelas kelihatan kalau tubuhnya tidak terurus. Dia terus menatapku sampai aku duduk di sampingnya.
“Nama kamu siapa dek?” tanyaku dengan nada bersahabat sambil mengukir sebuah senyuman.
“Aku lapar, kak!” ucapnya sambil memegang perutnya.
Aku mencoba mengingat uang yang masih tersisa di saku dan dompetku. Hanya ada selembar sepuluh ribuan dan dua koin lima ratus.
“Nanti kakak belikan kamu makanan. Tapi nama kamu siapa?” Sekali lagi aku menanyakan namanya.
“Benar kak? Serius? Kakak ngga bohongkan?”
“Iya. Ngapain bohong? Tapi nama kamu siapa?”
Aku melihat senyuman manisnya yang memancarkan barisan giginya yang tersusun rapi tapi berwarna kuning karena tidak pernah disikat.
“Namaku Samuel Lie. Dipanggilnya Samuel. Kalau kakak?”
“Dewantara, panggil saja kak Tara!”
Dia mengulurkan tangannya lalu kusambut. Sebuah jabatan salam perkenalan yang hangat. Terasa kalau tangannya penuh dengan debu ketika tanganku bersentuhan dengan tangan munggilnya. Kukunya yang panjang menyembunyikan daki berwarna hitam di setiap kuku jarinya.
“Yuk, kita makan.”
“Di mana kak?”
“Tuh ada warteg!” ucapku sambil menunjuk sebuah warteg.
Dengan langkah semangat Samuel memegang tanganku dan menuntunku ke warteg tersebut. Wajah murungnya berubah menjadi ceria.
Aku hanya memandangnya dengan mata yang hampir copot. Lahap sekali anak ini makan. Kurang dari lima menit, makanan yang aku pesan sudah tidak tersisa lagi. Sampai menjilat jarinya segala.
“Terima kasih ya, kak!” ucapnya dengan malu-malu.
“Sama-sama,” balasku terharu meski aku tahu jatah makan malamku sudah tidak ada lagi.
*****
Aku manatap Samuel yang tidur terlelap yang hanya beralaskan koran dan tumpukan baju di kosku yang hanya berukuran 2×1,5 meter. Masih terngiang pembicaraan antara aku dengan Samuel sebelum dia terlelap.
“Aku panggil kakak dengan sebutan Ko Dewa ya?”
Aku menatapnya dengan keheranan di antara terang yang dipancarkan lilin kecil. Anehkan? Kos yang aku tinggali hanya seratus ribu sebulan. Tanpa listrik dan tanpa kamar mandi. Jadi kalau mau mandi harus ke WC umum. Itu pun harus bayar. Suara kereta api yang lewat persis di depan kosku sudah menjadi musik tersendiri bagiku. Kata orang ada harga, ada mutu. Seperti itulah gambaran kos di pinggiran rel kereta api.
“Dulu aku punya koko.”
“Trus koko kamu di mana sekarang?”
Hening. Sunyi. Bisu.
“Koko… Koko meninggal karena sakit sama seperti papa. Namanya Ko Daniel.”
Kembali kesunyian mencekam.
“Ngga apa-apakan kalau aku manggil kakak dengan panggilan Ko Dewa?”
Aku berusaha untuk tersenyum, “panggil saja Ko Tara, ya?”
“Oklah kalau begitu.”
Aku tertawa dengan tingkah lakunya yang masih polos.
Karena lelah Samuel langsung tidur terlelap. Sementara aku berusaha menutup mataku diantara suara perutku yang berbunyi karena kelaparan.
“Koko pengen punya toko sendiri,” celotehku ketika mengajaknya ke tempatku bekerja. “Ngga perlu besar, yang penting milik sendiri.”
“Kenapa ngga jadi koki saja?”
“Koki?”
“Iya. Bisa makan sepuasnya. Kita makan ya ko?”
“Kamu lapar?”
“Lapar setengah mati.”
“Tapi uang koko tinggal seribu rupiah. Cuma bisa beli gorengan.”
Samuel hanya menatapku.
“Kamu disini ya, koko beliin kamu gorengan dulu.”
“Iya ko.”
Aku berlari untuk membeli dua potong pisang goreng. Begitu kembali, mata Samuel berbinar-binar ketika menerima dua potong pisang goreng.
“Ini untuk aku dan ini untuk koko,” ucapnya sambil menyerahkan sepotong pisang goreng.
“Untuk kamu saja ya!”
“Ngga mau! Koko kan belum makan apa-apa dari semalam?”
Dengan berat hati aku memakannya juga.
Setelah itu aku langsung melakukan tugasku ketika tiba di toko. Membuka toko, lalu membersihkannya, melayani pembeli dan kemudian menutupnya. Gajinya sih cukup untuk bayar kos, makan, kebutuhan sehari-hari dan biaya transportasi. Tapi beruntung Ko Willy, si empunya toko berbaik hati mengizinkan aku memakai komputernya untuk jualan online. Aku menjual tas yang ada di toko Ko Willy di blogku yang kuberi kamarsolusi.com. Keuntungannya memang sedikit. Tapi aku percaya, setia dalam hal yang kecil maka Tuhan akan mempercayakan hal yang lebih besar lagi.
“Nanti kalau ada yang beli tas sama koko, nanti koko traktir kamu di KFC.”
“Wow! Samuel doain semoga laku. AMIN”
Aku hanya tersenyum. Apa lagi melihat tubuhnya sudah bersih. Meski baju yang dikenakannya kebesaran.
Aku belum bisa membelikan Samuel baju sehinga mau ngga mau dia harus memakai pakaianku.
*****
“Kamu sikat gigi pakai garam ya?”
Samuel menatapku dengan kebingungan.
“Odolnya habis. Koko belum bisa beli.”
“Ow.”
“Begini caranya…” ucapku lalu mengambil garam dengan telunjuk tanganku dan menggosokkannya ke gigiku.
“Asin ko!”
Aku tersenyum meski hatiku perih.
“Yah iyalah masa manis.”
“Badanmu panas,” keluhku bingung ketika tanpa sengaja menyentuh tubuhnya. “Kamu sakit ya?”
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut munggil Samuel yang merah. Dahinya berkerut dan bibirnya mendesah menahan sakit.
Sementara di luar kos, gerimis mulai turun.
Tubuh Samuel kedinginan. Tidak ada jaket atau selimut. Aku berusaha menghangatkan tubuhnya dengan menempelkan beberapa baju ke seluruh tubuhnya.
“Kita ke dokter ya?” usulku, meski aku sendiri tidak yakin mendapat pertolongan tanpa uang yang cukup. Orang miskin dilarang sakit! Kalau berobat harus pinjam sana-sini buat biaya berobat. Setelah sembuh kerja keras lagi buat bayar hutang.
Aku semakin bingung ketika Samuel tidak menjawab. Dia hanya mengerang dengan mata tertutup rapat.
Aku menggendong tubuh Samuel dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Entah kenapa aku takut kehilangan Samuel. Meski baru dua minggu mengenalnya. Rasanya seperti terjalin ikatan batin yang kuat diantara kami.
Sehari tanpa ocehan Samuel rasanya ada yang aneh. Pertanyaan-pertanyaan sering terlontar dari mulutnya hingga kadang aku kewalahan menjawabnya.
“Woi, mau ke mana loe?” sergah satpam rumah sakit ketika melihatku. “Enak saja main masuk!”
“Adik saya sakit, pak?”
Satpam tersebut memandangku dan Samuel berkali-kali. Mungkin dia bingung, aku yang pribumi memiliki adik yang keturunan Tionghoa.
“Bawa saja ke rumah sakit lain. Di sini bayarnya mahal. Ngga terima pasien kayak begini!”
Ya Tuhan? Apa rumah sakit ini hanya menerima pasien yang menaiki mobil mewah yang bisa di rawat di sini? Sementara orang miskin sepertiku tidak diterima?
Ketika satpam tersebut mengarahkan mobil mewah untuk mendapatkan parkir aku langsung menerobos masuk. Aku tetap nekat untuk masuk. Apa pun akan aku lakukan untuk Samuel. Satpam tersebut hanya pasrah dengan sikapku. Aku tidak menghiraukan tatapan orang yang melihatku basah kuyup tanpa alas kaki. Sandal nyang kupakai tadi putus. Mungkin sudah waktunya untuk diganti.
Aku tidak menghiraukan tatapan orang yang memandangku. Dinginnya AC menusuk hingga tulang sum-sumku.
Empat hari kemudian.
“Hemofilia?” tanyaku kaget.
“Penyakit gangguan pembekuan darah dan diturunkan oleh melalui kromosn X,” ucap dokter muda yang cantik perawakannya memberiku penjelasan.
Aku menggagumi kecantikannya.
“Tapi selama ini tidak ada keanehan yang saya temui, seperti pendarahan yang terus menerus atau terjadi benturan pada tubuhnya yang mengakibatkan kebiru-biruan. Kalau boleh tahu, Samuel mengidap hemofilia A atau Hemofilia B, dok?”
“Begitu ya? Hemofilia B.”
Aku terdiam.
“Tidak hanya itu, hasil pemeriksaan menyatakan kalau dia juga positif HIV.”
Aku berdiri seperti patung. Samuel yang masih berumur enam tahun mengidap HIV? Ayah atau ibunyakah yang menularkan? Atau karena dia pernah menjalani transfusi darah dan ternyata Human Immunodeficiency Virus lolos dalam transfusi darah yang dijalanninya.
Kini aku tahu, kenapa tidak ada satu pun keluarganya yang mau menampungnya yang sebatang kara. Mungkin ayahnya meninggal karena HIV juga. Entahlah.
Aku menatap wajah pucat Samuel yang terbaring lemah dengan infus yang terpasang ditubuhnya. Selama Samuel di rawat tidak ada satu pun kata keluh kesah yang keluar dari mulutnya.
Masih jelas tergambar di memoriku pembicaraan kami berdua ketika mengajaknya makan di KFC di salah satu mal di bilangan Jakarta Barat.
“Samuel pengen kado natal!” Ungkap Samuel tiba-tiba begitu melihat nuansa natal yang menghiasi setiap penjuru mal.
“Mau kado apa?”
“Cuma pengen boneka Tazmania.”
“Nanti koko belikan kalau koko sudah punya duit. Beberapa harri ini belum ada tas yang laku. Nanti koko belikan boneka Tazmania yang gede.”
“Yang kecil juga ngga apa-apa kok.”
“Tapi jangan lupa berdoa ya.”
“So, pasti!”
Malamnya sebelum beranjak tidur, kembali dia mengutarakan keinginannya.
“Koko pasti belikan buat kamu. Berharap sebelum natal banyak tas yang laku.”
“Amin!” teriaknya memecah kesunyian malam.
Hatiku miris, seharian aku dan Samuel hanya minum air kran. Tidak ada duit yang tersisa.
“Maafkan koko, Samuel,” bisikku dalam hati sambil mengusap kepalanya.
Menit berikutnya.
Dia mengajakku berdoa. Biasanya aku yang mengajaknya.
“Tuhan… Berkati Ko Tara ya. Berkati pekerjaannya dan usaha on…”
“Online.” timpalku yang mengetahuinya kesulitan menyebut kata tersebut.
“Usaha onlinenya. Berkati juga bloknya.”
Aku tersenyum ketika dia menyebut kata blog dengak pemakaian huruf K dibelakangnya.
“Nama blognya apa ko?”
“Kamarsolusi dot com,” ucapku dengan perlahan-lahan.”
“Berkati kamarsolusi dot kom ya Tuhan. Biar banyak orang yang diberkati.”
Aku terharu. Aku meneteskan air mataku.
*****
“Ko, aku mau pulang saja!”
“Kenapa sayang? Di sinikan enak? Ngga kayak di kos koko.”
“Tapi aku kasihan koko harus berhutang untuk bayar semuanya.”
Diam. Sesak.
“Kamu jangan pikirkan itu ya, sayang. Tuhan pasti cukupkan semuanya.”
Tidak ada pilihan selain meminjam uang dengan Ko Willy dengan jaminan gajiku di potong setengah dari seharusnya aku terima setiap bulan.
Sebatang kara seperti ini tidak bisa berharap pertolongan kepada keluarga. Ah, betapa indahnya kalau masih memiliki keluarga. Teman? Ini Jakarta. Uang ngga jatuh dari pohon kayak daun kering. Siapa yang mau memberikan pinjaman kepadaku tanpa jaminan apa-apa yang bisa disita kalau tidak mampu melunasi hutang yang ada? Memberikan pinjaman ke keluarga sendiri saja masih pakai hitung-hitungan. Kalau mau nyumbang harus di ekspos. Berharap kepada manusia memang sering mengecewakan.
“Kamu harus di rawat di sini supaya cepat sembuh.”
“Ko…. Maafkan aku.”
“Kenapa harus minta maaf?”
“Aku sudah merepotkan koko.”
Aku menggenggam tangannya. “Kamu tidak merepotkan kok. Percayalah! Koko malah senang bisa berkorban buat kamu.”
Segala macam usaha telah di coba oleh tim dokter yang menangani Samuel. Sudah dua minggu terakhir ini berbagai obat pun silih berganti dimasukkan ke dalam tubuhnya.
Setiap hari berjam-jam aku menemaninya setelah pulang dari jaga toko. Mengobrol, bergurau atau kadang-kadang berdongeng untuknya.
“Ko, apa artinya meninggal dunia?”
Pertanyaan yang menghentakkan diriku yang lelah dan lapar. HIV sudah memorak-porandakan seluruh sistem pertahanan tubuh Samuel. Infeksi yang tidak terlalu berat pun dapat menimbulkan penyakit yang fatal.
“Artinya, kamu akan suatu tempat yang jauh. Tempat di mana kamu berasal.”
“Perginya sendirian?” tanyanya lemah.
Mataku berkaca-kaca. Namun aku mencoba untuk menahan agar air mata itu tidak jatuh.
“Sendirian. Tapi kamu jangan takut.”
“Kalau aku meninggal dunia, siapa yang akan menemani koko?”
Akhirnya air mataku juga jatuh. Diantara penderitaannya dia masih memikirkanku.
“Aku tahu, koko sering ngga makan biar aku kenyang. Koko sering jalan kaki pulang pergi ke toko biar bisa belikan aku sesuatu setiap hari. Nanti di sana, siapa yang motongin kuku Samuel?” ucapnya sambil meneteskan air matanya.
Aku memeluknya.
“Kamu ngga usah mikirin koko ya, sayang! Tuhan pasti menjaga koko.”
“Nanti kalau aku sudah besar dan punya uang yang banyak. Aku mau belikan koko sebuah toko. Biar koko ngga usah kerja lagi. Trus belikan koko rumah dan mobil, biar kalau hujan bisa tetap tidur enak dan tidak perlu lagi jalan kaki.”
Mulutku tertutup rapat. Bungkam. Tak ada kata yang bisa melewati kerongkonganku. Di tengah rasa sakitnya, dia masih menyimpan sebuah impian. Bukan keluh kesah karena sakit yang di deranya.
***
Aku membawa sebuah boneka Tazmania kecil untuk Samuel. Samuel yang terbaring lemah memaksakan senyumannya.
“Ko…”
“Kenapa sayang?”
“Besok aku tidak bisa ikut koko natalan di gereja.”
“Ngga apa-apa.”
“Kamu suka ngga bonekanya?”
“Terima… kasih… ya, ko! Bonekanya bagus banget.”
“Maafkan koko ya. Koko ngga bisa belikan kamu boneka yang gede.”
“Ko, aku mau… kasih koko… kado.”
Aku tercengang!
“Aku cuma… bisa kasih lagu buat koko…”
Aku mendekatkan kupingku di wajah Samuel. Suaranya semakin pelan.
“Ku yakin saat Kau berfirman
Ku menang saat Kau bertindak
Hidupku hanya ditentukan oleh perkataanMu
Ku aman karna Kau menjaga
Ku kuat karna Kau menopang
Hidupku hanya ditentukan oleh kuasaMu
Bagi Tuhan tak ada yang mustahil
Bagi Tuhan tak ada yang tak mungkin
MujizatNya disediakan bagiku
Ku diangkat dan dipulihkanNya”
Air mataku terus jatuh ketika dengan susah payah dia menyelesaikan lagu tersebut. Meski sudah tidak ada lagi harapan Samuel tetap percaya mujizat itu ada.
“Selamat natal ya ko,” ucapnya dengan sangat pelan.
“Selamat natal juga sayang.”
“Ko…”
“Iya, sayang!”
“Koko bisa nyanyikan aku lagi malam kudus? Tapi pake bahasa inggris.”
Tanpa berpikir panjang aku memenuhi permintaan Samuel.
Silent night, holy night
All is calm and all is bright
Round yon virgin mother and child
Holy infant so tender and mild
Sleep in heavenly peace
Sleep in heavenly peace
Silent night, holy night
Shepherds quake at the sight
Glories stream from Heaven afar
Heavenly hosts sing halleluia
Christ the savior is born
Christ our savior is born
Silent night, holy night
Son of God
Love’s pure light
Radiant beams from thy holy face
With the dawn of redeeming grace
Jesus Lord at thy birth
Jesus Lord at thy birth
Halleluia!
Halleluia!
Halleluia!
Christ the savior is born
Tangan kanan Samuel mendekap boneka Tazmanianya sementara tangan kirinya menggengam tanganku.
Genggamannya makin lama makin lembut hingga tak ada lagi nadinya yang berdetak.
“Surga menantimu, pahlawan kecilku,” bisikku dikupingnya yang dingin.
Jumat, 11 Mei 2012
Kritikan yang Membangun, cerita seorang penyanyi
Jakarta, 13 Mei 2012
Ada kisah nyata seorang penyanyi terkenal di Eropa,
seorang wanita yang memiliki suara yang bagus sekali.
Wanita ini bersuamikan pemain musik, pemain keyboard,
dan seorang pengarang lagu. Begitu pandainya sang suami
ini tentang lagu, nada, birama, tangga nada dan hal-hal
lain di bidang musik semacam itu, sehingga dia selalu
menemukan apa yang harus dikoreksi ketika isterinya menyanyi.
Kalau isterinya menyanyi selalu saja ada komentar
dan kritik seperti; bagian depan kurang tinggi,
lain kali dia berkata bagian ini kurang pelan,
lain kali dia berkata bagian akhir harusnya “kres”..
naik sedikit, dsb..selalu saja ada komentar pedas
yang dia lontarkan kalau isterinya menyanyi dan bersenandung.
Akhirnya sang wanita malas menyanyi. Dia berkeputusan…
wah gak usah nyanyi aja deh, apa aja salah terus, nyanyi
apa aja ada yang kurang. Enggak usah nyanyi kalau nyanyi kadang malah bertengkar…
Singkat cerita, karena suatu musibah, sang suami meninggal
dan lama setelah itu si wanita menikah lagi dengan seorang
tukang ledeng. Tukang ledeng ini tidak tahu menahu soal musik.
Yang ia tahu isterinya bersuara bagus dan dia selalu memuji isterinya kalau bernyanyi.
Suatu ketika isterinya bertanya: “Pak, bagaimana laguku pa?”
dan dia berkata kepada isterinya: “Ma…saya ini selalu ingin
cepat pulang karena mau dengar engkau menyanyi, ma!!” Lain kali
dia berkata,”Ma..kalau saya tidak menikah dengan engkau, mungkin
saya sudah tuli kali ma…, karena bunyi dentuman, bunyi gergaji,
bunyi cericit drat pipa ledeng, gesekan pipa ledeng dan bunyi pipa l
ainnya yang saya dengar sepanjang hari kalau saya bekerja….
Sebelum saya menikah denganmu ma…saya sering mimpi dan terngiang2
suara2 gergaji dll yang tidak mengenakkan itu ketika tidur. Sekarang
setelah menikah dan sering mendengar engkau menyani…lagumulah yang terngiang2…”
Istrinya sangat bersuka cita, tersanjung merasa diterima dengan
pujian yang diterimanya dan membuat dia gemar bernyanyi, bernyanyi
dan bernyanyi…Mandi dia bernyanyi, masak dia bernyanyi dan tanpa disadarinya dia berlatih,
berlatih dan berlatih. Suaminya mendorong hingga dia mulai merekam dan mengeluarkan kaset
volume pertama dan ternyata disambut baik oleh masyarakat.
Wanita ini akhirnya menjadi penyanyi terkenal, dan dia terkenal
bukan pada saat suaminya ahli musik, tetapi saat suaminya seorang
tukang ledeng, yang memberinya sedikit demi sedikit pujian ketika dia menyanyi.
Sedikit pujian memberikan penerimaan…sedikit pujian memberikan
rasa diterima…memberikan dorongan…semangat dan dorongan untuk
melakukan hal yang baik dan lebih baik lagi. Sedikit pujian dapat
membuat seseorang bisa meraih prestasi tertinggi yang bisa diraihnya.
Omelan, bentakan, kecaman, amarah atau kritik yang tidak membangun
tidak banyak merubah…Karena itu marilah kita saling memberikan
sedikit pujian satu dengan yang lain.
Senin, 14 Februari 2011
Seorang raja dengan Pelayan
Alkisah, disebuah kerajaan ..sang raja mempunyai kegemaran berburu, suatu hari raja & penasehat berangkat berburu, krn kurang hati-hati ...jari kelingking si raja terpotong, shg membuat hati raja bersedih, kemudian raja meminta pendapat dari penasehatnya, ....penasehat berusaha menghiburnya .. tetapi raja tetap bersedih, akhirnya penasehat berkata "apapun yg terjadi patut disyukuri" , mendengar ucapan penasihat ...raja menjadi marah "kurang ajar ..kena musibah tidak dihibur ..malah disuruh bersyukur" kemudian raja memerintahkan tuk menghukum penasehat 3th penjara.
hilangnya kelingking tak menghentikan kegemaran raja berburu, suatu hari raja & penasehat barunya ...berangkat berburu ketempat yang jauh dari istana, tak diduga raja & penasehat tersesat ditengah hutan ... tiba tiba dihadang oleh seklompok suku primitif, mereka berdua ditangkap ... dan mau dipersembahkan kepada para dewa, ...kemudian mereka dimandikan ...saat giliran raja dimandikan ...ketahuan jari kelingkingnya tak sempurna ...kemudian raja ditendang & dibebaskan begitu saja, akhirnya dengan susah payah raja lari dan bisa kembali lagi ke istana.
»» READMORE...
hilangnya kelingking tak menghentikan kegemaran raja berburu, suatu hari raja & penasehat barunya ...berangkat berburu ketempat yang jauh dari istana, tak diduga raja & penasehat tersesat ditengah hutan ... tiba tiba dihadang oleh seklompok suku primitif, mereka berdua ditangkap ... dan mau dipersembahkan kepada para dewa, ...kemudian mereka dimandikan ...saat giliran raja dimandikan ...ketahuan jari kelingkingnya tak sempurna ...kemudian raja ditendang & dibebaskan begitu saja, akhirnya dengan susah payah raja lari dan bisa kembali lagi ke istana.
Sampai diistana ...raja segera memerintahkan tuk membebaskan penasehatnya yg ada dipenjara ... "penasehatku ...aku berterima kasih kpdmu ...nasehatmu ternyata benar ...karena hilangnya jari kelingking waktu itu ...membuat aku bisa kembali dengan selamat ...kemudian raja menceritakan kejadiannya dgn lengkap, setelah mendengarkan cerita raja ...buru-buru penasihat berlutut & sambil berkata "terima kasih baginda ...saya juga bersyukur ...baginda telah memenjarakan saya ... jika tidak maka yang persembahan kpd para dewa ... oleh orang primitif itu kemungkinan saya"
Sabtu, 22 Januari 2011
Cerita....baca!!!!
Cerita ini tentang seorang wanita yang cantik dan berpakaian sangat mahal. Ia mengeluh kepada psikiaternya bahwa hidupnya sangat kosong dan tidak mempunyai arti. Jadi psikiaternya memanggil seorang nenek yang bekerja sebagai pembersih lantai kantor, kemudian berkata kepada wanita kaya itu, ” Saya memanggil Mary kesini untuk mengatakan kepadamu bagaimana ia menemukan kebahagiaan. Aku hanya ingin kau mendengar cerita nenek ini. “
»» READMORE...
Cerita ini tentang seorang wanita yang cantik dan berpakaian sangat mahal. Ia mengeluh kepada psikiaternya bahwa hidupnya sangat kosong dan tidak mempunyai arti. Jadi psikiaternya memanggil seorang nenek yang bekerja sebagai pembersih lantai kantor, kemudian berkata kepada wanita kaya itu, ” Saya memanggil Mary kesini untuk mengatakan kepadamu bagaimana ia menemukan kebahagiaan. Aku hanya ingin kau mendengar cerita nenek ini. “
Si nenek tua meletakkan sapunya, duduk di sebuah bangku dan bercerita :
” Suamiku meninggal karena malaria dan tiga bulan kemudian anak laki-lakiku satu-satunya meninggal karena tertabrak mobil. Aku tidak punya siapa-siapa lagi .. Aku tidak punya apa-apa. Aku tidak dapat tidur, aku tidak pernah tersenyum kepada siapapun, aku bahkan pernah berpikir untuk mengakhiri hidupku. Kemudian pada suatu sore, seekor anak kucing mengikutiku sampai ke rumah. Aku sangat kasihan melihat anak kucing itu. Ketika itu udara sangat dingin, jadi aku memutuskan untuk membiarkannya masuk ke rumah. Aku memberinya semangkuk susu, dan ia menjilatinya sampai kering. Kemudian ia menggesek-gesekkan badannya ke kakiku, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, aku tersenyum. “
” Kemudian, aku berhenti dan berpikir, jika menolong seekor kucing kecil dapat membuatku tersenyum, mungkin dengan berbuat sesuatu untuk orang lain dapat membuatku bahagia. Jadi, hari berikutnya aku membuat beberapa kue dan memberikan kepada seorang tetangga yang terbaring sakit. Setiap hari aku mencoba untuk melakukan sesuatu untuk membuat orang lain berbahagia. Saat melihat mereka bahagia, itu juga membuatku merasa bahagia. Saat ini, aku tidak mengetahui ada seseorang yang dapat tidur dan makan lebih baik dari aku. Aku menemukan kebahagiaan, saat memberikannya kepada orang lain. “
Ketika mendengar hal tersebut, wanita kaya tersebut menangis. Ia mempunyai segala hal yang dapat dibeli dengan uang, tetapi ia kehilangan hal-hal yang tidak dapat dibeli dengan uang.
Cerita diatas membuat kita kembali merenungkan, bahwa kebahagiaan sejati datangnya bukan dari harta atau pangkat atau apapun juga yang membuat silau mata duniawi kita. Tetapi kebahagiaan sejati datangnya dari dalam hati kita sendiri, rasa syukur atas apapun keadaan kita dan tindakan kita untuk dapat melakukan sesuatu yang berarti dan membuat orang lainPRIBAHASA
»» READMORE...
- "Tidak ada orang yang bodoh di dunia ini, yang ada adalah mereka belum mendapatkan kesempatan belajar dari guru yang baik". (Yohanes surya) pakar matematika dan fisika.
- "Sebongkah intan tak akan bernilai tinggi tanpa kita mengasahnya dulu dari sebuah bongkahan batu".
- "Kita perlu menempatkan diri pada keadaan 'kritis', agar kita bisa mencari jalan keluar yang terbaik.
- "kebahagiaan sejati datangnya bukan dari harta atau pangkat atau apapun juga yang membuat silau mata duniawi kita. Tetapi kebahagiaan sejati datangnya dari dalam hati kita sendiri, rasa syukur atas apapun keadaan kita dan tindakan kita untuk dapat melakukan sesuatu yang berarti dan membuat orang lain berbahagia".
- Kebahagiaan sejati datangnya bukan dari harta benda, pemuda/i, anak-anak adalah harta benda kita yang sangat berharga, merekalah yang akan memajukan bangsa ini.
- 1 catatan akan lebih baik daripada 1000 ingatan.
Langganan:
Postingan (Atom)